RSS

PESAN PSY “GANGNAM STYLE” KEPADA 700 WISUDAWAN/WATI IPB

Gambar

Berbagai media meliput kehebohan yg diciptakan oleh Psy lewat tarian “Gangnam Style” nya. Video yg diunggah bulan juli kemarin telah ditonton oleh setidaknya 2.5 Juta pasang mata sehingga tercatat di Guinnes World Record sebagai video yg paling banyak disaksikan sepanjang sejarah youtube. Fakta yang tak kalah menghebohkan adalah Psy menjadi orang korea pertama yang bisa menembus pasar amerika dan bahkan diminta melatih artis2 Amerika.

Siapakah Psy? seorang rapper senior korea, yang memperkenalkan dirinya sebagai sosok yang tidak tinggi, tidak tampan, tidak kekar, tidak langsing (tidak seperti pada umumnya sosok Boy Band Korea yang langsing, tinggi, kekar, dan ganteng)

Apa sesungguhnya Gangnam Style? terlepas dari kesan erotis yang terlihat dalam video klip tersebut, Gangnam Style sesungguhnya adalah pesan satire terhadap gaya hidup orang-orang kaya di distrik Gangnam yang tidak mengikuti kaidah hidup bangsa Korea pada umumnya. Kaum “borju” tersebut menghabiskan waktu di kelab malam mewah, rutin datang ke pusat fitness mewah untuk membentuk tubuh mereka. sindiran untuk perilaku tersebut tampak dari scene yang ada pada video klip.

Lalu pesan apa yang hendak Psy Sampaikan kepada 700 wisudawan/wati IPB?

Jika seorang Psy yang hanya rapper korea dengan perawakan yang tidak menarik mampu menyihir dunia dengan tarian “Gangnam Style”, maka besar harapan bahwa 700 wisudawan/wati IPB yang diwisuda 26 September ini juga mampu membawa perubahan bagi negeri ini bahkan dunia.

Jika Gangnam Style hanya akan menjadi euphoria sekejap, dan akan hilang seiring waktu, wisudawan IPB dengan “Agriculture Development Style, Economic and Management Style, Agricultural Engineering Style, dan secara khusus Wisudawan/wati Kristen dengan “God’s Disciple Style” nya seharusnya mampu memberi perubahan jangka panjang dan berarti,

Bukan sekedar flash mob tetapi movement, bukan sekedar satire tetapi teladan, bukan sekedar parody tetapi tindakan, bukan sekedar memberi rejeki dadakan bagi pedagang bunga di sekitar graha widya wisuda tetapi kesejahteraan jangka panjang bagi mereka yang tidak berdaya, bukan sekedar kenangan berupa photo wisuda yang terpampang di dinding rumah atau dinding facebook, tetapi kenangan yang terpampang lewat wajah sumringah orang banyak yang sejahtera hidupnya oleh kita

Euforia Psy dengan Gangnam Style nya akan segera berlalu, akankah Euforia 700 wisudawan/wati juga akan segera berlalu setelah 26 September? Semoga tidak

kita tunggu karya mu kawan… (sambil saya latihan lagi…oooppp….oooppp…oppa gangnam Style) :)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 26, 2012 in Uncategorized

 

MAKNA HIDUP DAN SINAMOT

Gambar

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat pembicaraan santai, menyenangkan namun serius dengan dua orang adik . pertemuan yang tidak direncanakan, namun terkondisikan karena suasana warung yang ramai dengan anak-anak yang baru pulang  persekutuan. pembicaraan terjadi sambil menikmati nasi goreng ayam, yang saya lupa rasanya seperti apa karena ternyata rasa percakapan ini lebih nikmat.

Diskusi dimulai dengan pertanyaan yang tidak disangka akan ditanyakan di meja makan pada saat itu: “Bang, menurut abang apa sih makna hidup”?. Tidak siap dengan jawaban yang definitif, saya mencoba melempar balik pertanyaan itu kepada kedua adik ini : “kalau bagi kalian apa?”. si adik pria ini mencoba menjawab, “kalau bagi dia hidup itu adalah anugerah, kalau bagiku makna hidup itu adalah bekerja dan melayani”. pembicaraan pun terus berlanjut karena ternyata jawaban yang mereka berikan bukanlah definisi makna hidup, melainkan apa itu hidup bermakna ata bagaimana mereka memaknai hidup. saya pun melanjutkan pertanayaan. “apa artinya memiliki makna hidup demikian”?. si adik yang wanita memberikan jawaban yang membahagiakan: “karena hidup adalah anugerah, artinya hidup saya harus dipakai untuk kemuliaan Sang pemberi hidup, saya sudah mulai memaknainya bahkan ketika memilih jurusan di IPB, nanti akan bekerja dimana y sesuai dengan apa yang menjadi panggilan bagi Dia bagi saya”. dalam hati saya berkata: “ kiranya Tuhan terus menjaga hatimu” (bukan buat saya hahahaha). si adik yang pria menjawab: “ artinya nanti ya hidup buat bekerja dan melayani Tuhan”. ya walaupun si adik ini baru menemukan dan belum tajam, setidaknya dia sudah punya pemikiran untuk melihat apa arti hidup sesungguhnya.

Dalam perenungan pribadi saya apa pentingnya seseorang harus menemukan makna hidupnya, toh banyak juga yang tidak menggumulkan dengan serius. kalaupun menggumulkan dengan serius banyak juga yang tergilas dikarenakan godaan maupun tekanan yang besar di luar sana.

Dimana tempat seseorang ditempa, merumuskan, menajamkan, dan berkomitmen terhadap makna hidupnya? saya melihat PMK menjadi satu tempat penempaan yang paling baik, tetapi saya pribadi masih meratapi kenapa tempaan di PMK banyak yang hancur lebur ketika sudah didunia Alumni.

Dimulai dari memilih pekerjaan (apa mungkin ketika mahasiswa Tuhan panggil pergi ke pedalaman, tetapi tiba-tiba sesudah alumni mengatakan Tuhan panggil ke BANK)? (mencoba bertanya ke Tuhan),  lalu ketika hidup di alumni ternyata tidak kuat juga menghadapi gaya hidup dunia, yang tanpa terasa mulai menggerogoti bahkan hingga ke akar-akar iman.

Hmmm, pembicaraan kami belum berakhir, semoga masih ada kesempatan bertemu dengan mereka, karena SINAMOT yang menjadi biang keladi dari pembicaraan tentang makna hidup belum terungkap :)

semoga kalian berdua bisa mempertajam apa artinya hidup bermakna, dan berkomitmen di dalamnya

cat:

makna “hidup bermakna” dan “makna hidup” saya samakan saja, karena toh dalam pembicaraan kedua adik ini sepertinya mengartikan keduanya sama

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 26, 2012 in untaian asa

 

JIKALAU BOENHOEFFER MASIH HIDUP, APAKAH RATAPANNYA BAGI KEKRISTENAN KITA?

 

 

 

 

 

 

 

sebuah perenungan akan Costly Grace vs Cheap Grace

Di dalam tulisannya The Cost Of Discipleship[1], Boenhoeffer meratapi kemandulan gereja yang pada saat itu membeo dan tunduk pada kekuasaan Nazi. Didalam kalimat demi kalimat tulisannya, ia sedang menulis dengan nada emosi yang tinggi dan memuat desakan dengan amat serius supaya setiap orang yang membaca karya tulisannya sadar apa artinya menjadi Kristen sejati. Mengapa? karena terlalu banyak orang Kristen tidak bersedia membayar harga dan tidak hidup di dalam anugerah yang mahal (Costly Grace), tetapi justru hidup dalam anugerah yang murah (Cheap Grace)

Yang Ia maksudkan dengan Cheap Grace adalah anugerah yang ditangkap secara akali saja, yaitu anugerah yang tidak mengubah masa lalu kehidupan seseorang, anugerah yang tidak bersifat transformative. Ia merinci cheap grace sebagai : “The preaching of forgiveness without requiring repentence, baptism without church discipline, communion without confession, cheap grace is grace without discipleship, grace without cross, grace without Jesus Christ, living and incarnate”[2]. Jadi yang dimengerti sebagai orang Kristen Cheap Grace adalah orang Kristen “tanpa”, yaitu tanpa pertobatan, tanpa disiplin rohani, tanpa pengakuan, tanpa menjadi murid, tanpa salib, tanpa Yesus Kristus. Singkatnya Kekristenan jenis ini hanya menginginkan easy believism atau simple belief, dan Kekristenan model seperti ini telah menyebabkan kerusakan di berbagai tatanan kehidupan masyarakat.

Sedangkan Costly Grace adalah anugerah seperti yang diberitakan di Injil-injil, anugerah jenis ini membutuhkan adanya pertobatan yang nyata dibuktikan dengan perubahan orientasi hidup yang ujung-ujungnya mengarah pada kerelaan seseorang untuk mengikut Yesus didalam perjalanan kehidupannya. Hidup sebagai murid ini berat, sebab pilihan itu menuntut hidup seseorang seluruhnya. orang seperti ini akan menolak hidup sia-sia dalam Cheap Grace, justru sebaliknya ia akan aktif bekerja sebagai murid Kristus dengan sungguh-sungguh. Orang yang memiliki costly grace harus terlihat nyata dalam dunia yang riil dengan segala pergumulannya. Ia harus hidup dengan kesadaran tunggal bahwa Allah dalam Kristus Yesus beserta dan membela orang percaya (God is for us). ini artinya setiap orang yang mengakui dirinya sebagai murid harus menunjukkan hidup yang rela membayar harga dan tidak ikut arus sekularisme, sebab bila murid terserang virus sekularisme, maka kesadaran akan costly grace perlahan tapi pasti akan memudar

Kekristenan Di indonesia dalam angka statistic mungkin tidak diketahui dengan pasti, tetapi secara kasat mata kita bisa melihat bahwa Kekristenan terus bertambah dalam jumlah (kemungkinan besar adalah karena kelahiran), Kelahiran gereja-gereja, Lembaga-lembaga pelayanan, Persekutuan-persekutuan (Siswa, Mahasiswa, alumni) juga terus menunjukkan pertumbuhan secara statistic. Namun ditengah pertumbuhan pelayanan, bertumbuh juga kejahatan, perilaku korup yang semakin menjadi-jadi, moralitas yang semakin merosot.

Secara logika sederhana kita akan mengatakan bahwa pertumbuhan kaum religious harusnya berbanding terbalik dengan pengaruh sekularisme.

namun apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Kekristenan seperti apa yang sedang dihasilkan dari pelayanan siswa, mahasiswa dan alumni, Gereja?

Dietrich Boenhoeffer lahir 14 februari 1906 di Jerman. anak dari seorang guru besar neurologi ini sudah tertarik dengan theology sejak 12 tahun. masuk sekolah theology tahun 1923. ia meraih gelar Doctor pada usia 24 tahun dengan disertasi yang menakjubkan dan karyanya itu disebut sebagai “miracle theology”. boenhoeffer hidup pada masa NAZI berkuasa dan memilih untuk hidup melawan kekejaman NAZI ketimbang melarikan diri atau kompromi seperti yang dilkakukan oleh Gereja pada saat itu. IA meninggal dalam usia 39 tahun karena hukuman gantung setelah dinyatakan terlibat dalam usaha pembunuhan Hitler.


[1] The Wordly Christian: Boenhoeffer on Discipleship

[2] ibid.47

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 26, 2012 in Uncategorized

 

COMMUNITY – THE CONTEXT FOR CHANGE

Gambar

Apakah komunitas Kristen itu?

Pertanyaan ini memiliki tiga jawaban penting, yaitu:

Pertama, komunitas Kristen adalah umat kepunyaan Allah– sebuah komunitas yang terbentuk dari orang-orang yang percaya kepada Injil. Orang-orang yang diselamatkan oleh anugerah, dan menyerahkan hidupnya kepada Allah, dan menjadi sebuah komunitas yang berbeda yang hidup di dalam Anugerah.

Kedua, komunitas Kristen adalah Tubuh Kristus, dimana setiap orang di dalamnya berbagi hidup bersama. Alkitab memberikan kita metafora untuk aspek ini yaitu keluarga Allah, dimana setiap orang di dalamnya hidup bersama, makan, hidup dan bekerja bersama-sama. Metafora yang lain adalah tubuh, menggambarkan bahwa komunitas Kristen bukanlah hanya sekumpulan orang, tetapi sebuah komunitas yang satu sama lain saling bergantung dan memiliki peran masing-masing.

Ketiga, komunitas Kristen adalah persekutuan Roh, sebuah model kehidupan masa depan. Alkitab memberikan metafora kota diatas bukit (Mat.5:14) yang berarti perbuatan kita tampak oleh seluruh dunia, sehingga dunia memuliakan Allah. Di masa depan, Allah akan mempersatukan dan memulihkan segala sesuatu di dalam Kristus. Dalam Efesus 1:13-14, Paulus menuliskan Roh kudus menjadi “jaminan bagian kita” akan pemulihan dimasa mendatang, maka saat ini gerejalah yang menjadi model komunitas masa depan dibawah pemerintahan Kristus.  Dengan definisi ini, kita bisa memahami bahwa Komunitas Kristen adalah komunitas yang terbentuk karena setiap orang di dalamnya telah menerima Anugerah Allah dan kita tidak bisa dipisahkan dari komunitas.

Apa Peran Komunitas?

Setidaknya ada 3 peran utama komunitas di dalam kehidupan Kristen:

Pertama, kita tidak dapat mengenal Allah terpisah dari komunitas. Ketika kita membaca kitab Injil, disana dikisahkan bagaimana Yesus membentuk murid, kita melihat bagaimana Dia membawa mereka bersama-sama. Mereka tinggal bersama, makan bersama, dekat satu sama lain secara spiritual, sosial maupun emosi. Maka yang menjadi tempat utama bagi murid untuk mengenal dan mengikut Yesus adalah di dalam komunitas. Komunitas adalah tempat terbaik untuk mengenal Firman Tuhan dan kebenaranya, dan juga bagaimana Firman Tuhan bekerja di dalam kehidupan kita melalui diskusi, dialog dan aplikasi dari waktu ke waktu. Ketika Allah mendorong kita membangun relasi denganNya, Dia juga mendorong kita masuk dalam komunitas orang percaya, itu artinya kita tidak hanya sekedar hadir di gereja setiap minggu dan memperoleh inspirasi maupun informasi tanpa terlibat aktif di dalam komunitas. Sekedar aktif di gereja bukanlah berarti berada dalam sebuah komunitas melainkan itu hanya sekedar berada di dalam keramaian. Tapi kita memiliki jati diri yang baru, yaitu berada dalam komunitas yang baru dari sekelompok orang yang kenal, percaya dan mengikut Yesus.

Kedua, kita tidak dapat mengalami perubahan yang dalam terpisah dari komunitas. Karakter kita terutama terbentuk melalui orang-orang yang berada dekat dengan kita, pada saat makan, bermain, berbicara, dan berdiskusi. Komunitas utama kita membentuk dan membawa kita pada level yang lebih dalam. Jonathan Edward berkata sebelum kita mengalami anugerah Allah, segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan keinginan kita saja. Kita membutuhkan satu jati diri, membutuhkan sebuah harga atau harga diri dan kita perlu membangunnya diatas sesuatu– itu artinya kita tidak melakukan pekerjaan hanya demi pekerjaan itu, kita tidak membangun relasi dengan orang lain demi orang tersebut. tetapi lewat orang-orang disekitar kita, kita membangun sebuah jati diri. Dan itu artinya semua relasi yang sedang kita bangun adalah untuk perubahan yang lebih mendalam di diri kita sendiri. Ketika Injil mengubah hidup kita, dan membawa kita pada hubungan yang berakar kuat di dalam Kristus, itu mengubah cara berelasi kita dengan orang lain. Kita dapat berelasi dengan orang lain demi mereka. Kita dapat bersukacita dengan segala keberadaan mereka, relasi tidak lagi semata demi kepentingan kita. Injil memperbaharui semua relasi kita. Injil yang memperbaharui hidup manusia mampu membentuk membentuk komunitas yang dalam dan didalam komunitaslah kita menjadi pribadi-pribadi yang dibentuk oleh Injil. Dan itu artinya jika kita ingin diubahkan oleh Injil maka kita harus berbagi hidup di dalam komunitas.

Roma 12:5 memberikan kita gambaran sebuah komunitas” kita adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. aplikasi dari prinsip ini menolong kita bagaimana membangun komunitas Kristen. Ada 3 tahapan dengan masing-masing 3 langkah praktek yang bisa kita kembangkan.

1.  Menjadi Sahabat

  • Langkah pertama: saling menerima kekuatan, kemampuan dan karunia masing-masing orang (Roma 12:10, Yak.5:9, Rom.12:3-8).
  • Langkah kedua: saling menerima bahwa setiap orang berharga dihadapan Kristus (Roma 15:7, I Kor.12:25, I Petrus 5:5, Yak 2:1). Cara pandang  ini sangat berbeda dengan cara pandang dunia yang membedakan manusia dengan status kasta, ras, pekerjaan, budaya dan banyak hal lainya. Tetapi Alkitab memanggil kita untuk menolak sikap tersebut masuk dalam gereja, masuk dalam komunitas orang percaya. Komunitas kita dibangun bukan berdasarkan golongan yang dibangun oleh manusia, tetapi karena kita sebagai pribadi yang sama berharganya dimata Tuhan.
  • Langkah ketiga: saling menerima satu sama lain melalui sikap hormat (Roma 16:16, Yak.1:19, Efesus 4:32, 1 Tes 3:12). Sebagai sebuah komunitas, kita menunjukkan penghormatan kepada orang lain melalui sikap kita, mengkomunikasikan cinta dan penghormatan dalam bentuk yang lebih nyata. Kita tidak boleh bersikap dingin, berbeda, dan kasar, melainkan kita harus menyatakan kasih kepada orang lain lewat tindakan kita.

 

“utang pelayanan pertama kita kepada orang lain dalam komunitas adalah mendengarkan mereka. Sama seperti ketika kita mengasihi Allah dimulai dengan mendengarkan firman-Nya demikian juga kasih kita kepada orang lain adalah dimulai dengan belajar mengenal mereka…mendengarkan bisa menjadi pelayanan yang lebih besar dibandingkan dengan berbicara.” (Dietrich Boenhoffer)

2. Menjadi Keluarga

  • Langkah keempat: berbagi ruang, barang, dan waktu satu sama lain (Roma 12:10. 1 Petrus 4:9, Gal.6:10). Praktek ini adalah keinginan untuk berbagi apa yang kita miliki di dalam komunitas.
  • Langkah kelima: berbagi satu sama lain kebutuhan dan masalah kita (Galatia 6:2; 1 Tesalonika 5:11, Ibrani 3:13).
  • Langkah keenam: berbagi satu sama lain tentang iman, pemikiran dan kehidupan rohani kita (Kol 3:16; Efesus 5:19, Roma 12:16; 1 Kor 1:10). Hal ini menyangkut bagaimana membangun kesatuan hati dan pikiran di dalam kebenaran Firman. Tidak mudah untuk memahami isi Alkitab secara pribadi; kita perlu belajar Alkitab bersama-bersama demi membangun komunitas yang mengenal kebenaran Firman Tuhan dan juga membangun aplikasi yang tepat dalam konteks komunitas. Kita membaca Alkitab bersama-sama sampai kebenarannya membentuk kita menjadi sebuah komunitas yang berbeda.

“pelayanan kedua yang harus nyata dalam komunitas Kristen adalah sikap aktif menolong. Kita harus siap membiarkan hidup kita diinterupsi oleh Allah. Allah mungkin membatalkan rencana-rencana kita dan mengirimkan kita bagi orang lain. Memang kita dapat melewatkan mereka, mendahulukan kepentingan kita seperti imam yang melewatkan orang yang dirampok oleh penyamun, bisa jadi – demi membaca Alkitab.” (Dietrich Boenhoffer)

3. Menjadi Pelayan

  • Langkah ketujuh: melayani satu dengan yang lain melalui keterbukaan kita (Yak.5:16, Roma 15:14, Efesus 4:25). Kita harus memiliki keinginan agar orang lain di dalam komunitas mengetahui masalah dan kebutuhan kita. Dalam hal yang lebih pribadi, kita harus terbuka tentang dosa-dosa kita dan meminta komunitas menolong kita untuk lepas dari dosa tersebut. Dietrich Bonhoeffer menuliskan: ‘akuilah dosamu satu sama lain (Yak 5:216)… dengan mengakui dosa kita kepada orang lain, kita akan menyadari bahwa kita tidak sendiri lagi, kita mengalami kehadiran Tuhan melalui kehadiran mereka.”
  • Langkah kedelapan: melayani satu sama lain melalui pengampunan dan rekonsialiasi (efe.4:2, Kol.3:13, Gal.5:26, Yak.4:11, Matius 5:23-24). Komunitas Kristen harus senantiasa menjadi komunitas yang siap mengampuni dan senantiasa memperbaik setiap hubungan yang rusak. Seorang Kristen bertanggungjawab untuk memulai proses rekonsiliasi seburuk apapun masalah yang terjadi.
  • Langkah kesembilan: melayani kepentingan orang lain, diatas kepentingan pribadi (Ibrani 10:24; Rom.15:1-2, Gal.3:15). Dalam pelayanan ini, kita meletakkan kebutuhan dan kepentingan orang lain diatas kepentingan kita, inilah natur seorang pelayan. Kita harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan orang lain, dan berusaha dengan kasih menolong mereka. Di dalam Kristus kita tidak bisa menjadi pribadi yang sombong dengan mengatakan kita tidak membututuhkan komunitas atau sebaliknya sehingga begitu mengeksploitasi orang lain di dalam komunitas.

Sebagai penutup atas pembahasan point kedua, yaitu bagaimana membangun komunitas, mengutip Eugene Peterson yang memberikan penekanan bahwa kita adalah sebuah komunitas, kita tidak pernah hidup sendiri dan bagi diri sendiri. Kita dilahirkan di dalam komunitas, kita tinggal di dalam komunitas, kita meninggal di dalam komunitas, natur manusia bukanlah hidup menyendiri

Ketiga, kita tidak dapat memenangkan dunia ini tanpa komunitas. Kita sering berpikir bahwa komunitas adalah hasil dari Injil. Memang, tetapi kita harus berpikir bahwa komunitas bukan hanya hasil dari pemberitaan injil, tetapi komunitas juga adalah bentuk deklarasi dan komunikasi Injil. Komunitas adalah bagian dari kabar baik. Sebagai contoh, komunitas Kristen harus menunjukkan kepada dunia bagaimana cara pandang komunitas Kristen tentang uang, seks dan kekuasaan.

Diterjemahkan dan disarikan dari buku Gospel in Life (Tim Keller)

bagian keempat dari delapan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 21, 2012 in Cuplikan Buku

 

The Gospel of Jesus’s wife”

Gambarsebuah berita “menarik” diberitakan di Yahoo http://id.berita.yahoo.com/profesor-havard-beberapa-umat-kristen-percaya-yesus-menikah-041406775.html yang sebelumnya diberitakan oleh New York Times http://www.nytimes.com/2012/09/19/us/historian-says-piece-of-papyrus-refers-to-jesus-wife.html?_r=3

yaitu penenuam potongan papyrus yang berisi fakta baru tentang Yesus Sejarah.

Professor Karen King dalam wawancaranya menyebutkan:

It contains just eight broken lines, scrawled in a crude Coptic hand.

The fourth says: “… Jesus said to them, ‘My wife….”

The next line reads: “…she will be able to be my disciple.”

t’s not saying we’ve got the smoking gun that Jesus is married,” she said.

But the fragment — which King provocatively calls “The Gospel of Jesus’s wife” — does show that some early Christians believed Jesus was married, probably to Mary Magdalene, a follower of Jesus who the gospels say was the first person to see him after his resurrection.

bagaimana kita sebagai orang awam ketika membaca penemuan dan komentar sang Profesor dari Harvard ini?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 20, 2012 in ulasan peristiwa

 

CITY – EXPLOIT, STAY OUT, OR REVITALIZE? (cara pandang tentang kota)

Orang Israel akhirnya mengalami pembuangan seperti yang dinubuatkan para nabi, sekarang mereka berada di babel dan disebut sebagai orang-orang buangan. orang-orang buangan  ini harus bekerja ditengah-tengah masyarakat yang hidup dengan nila-nilai dan kepercayaan yang sangat berbeda dengan mereka.

Orang babel menginginkan orang-orang buangan masuk kedalam kota dan kehilangan identitas iman , itulah alasan orang-orang  buangan dibawa ke babel. Orang Babel berharap setelah beberapa generasi berikutnya, anak cucu bangsa Israel telah mengalami asimilasi dan kehilangan identitas asali mereka sebagai umat TUHAN. Sehingga secara tidak langsung orang babel sedang mengatakan: “Tinggallah  di kota ini, seraplah nilai-nilainya, cintailah, dan berasimilasi lah”

Para nabi palsu Israel seperti Hananya, memiliki cara pandang  berbeda terhadap kota Babel. Mereka menyarankan jika orang-orang buangan ingin menjaga identitas iman mereka, mereka harus tinggal jauh dari kota, mereka lebih baik tinggal di tepi sungai kebar atau wilayah lain agar tehindar dari kontak langsung dengan penduduk kota metropolis Babel. Para imam palsu itu sedang mengatakan: “Tinggallah jauh dari kota itu, eksploitasi, manfaatkan, dan abaikan”

Tetapi Tuhan melalui Yeremia, mengatakan kepada para buangan sesuatu yang sangat berbeda: “Tinggallah di kota itu, dan jaga imanmu”. Tuhan memanggil mereka untuk tinggal di kota dan melayani kota walaupun berbeda dengan identitas mereka (Yeremia 29:4-7)

Ini merupakan panggilan yang mengejutkan bagi Israel, TUHAN memanggil orang-orang buangan  melayani dengan baik dikota yang tidak mengenal TUHAN. TUHAN mengingatkan bahwa kesejahteraan mereka diperoleh  didalam kesejahteraan kota. Mereka harus mengusahakan kesejahteraan  kota agar mereka hidup sejahtera. Sehingga TUHAN  mengatakan kepada mereka, tinggallah di kota ini , bangun rumamu, menikah dan milikilah anak lakik-laki dan perempuan dan bertambah banyaklah, wujudkanlah SHALOM- damai dan sejahtera – dikota ini, dan berdoalah kepada Tuhan untuk hal ini

Orang-orang buangan berada di babel bukan untuk kompromi dengan nilai-nilai kekafiran. Mereka berada disana untuk melayani dan mengasihi tempat tinggal baru mereka, bukan untuk mengutuk kota, atau menjauhkan diri dari kota. Ini artinya orang-orang buangan harus menunjukkan lewat kata dan karya bahwa mereka ingin melayani  penduduk sekitar mereka tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai Umat TUHAN. Ini adalah ide yang radikal, umat TUHAN harus bekerja untuk kebaikan orang-orang yang tidak hidup dalam relasi dengan TUHAN.

Melalui kitab ini dan kitab lainnya,kita melihat bagaimana TUHAN mengasihi kota dan orang-orang yang ada didalammnya. TUHAN mengasihi Yerusalem dan orang-orang Israel, namun juga mengasihi Babel dan Niniwe. Jadi, jika TUHAN saja mengasihi kota-kota tersebut, kita juga harus menaruh kasih yang sama. TUHAN memanggil kita untuk melayani dimana saja kita ditempatkan.

TUHAN mengasihi kota, karena kota dimana umat manusia tinggal didesain untuk suatu Tujuan. Kita harus memahami bahwa keberadaan kota bukanlah sebuah kecelakaan atau penemuan manusia. TUHAN menunjukkan kepada kita bahwa kota didesain untuk tujuan tertentu

Kota di desain sebagai tempat perlindungan dan kesejahteraan. penduduk dilindungi oleh tembok kota, sehingga kota adalah tempat terbaik bagi perempuan dan anak-anak, bagi minoritas, immigrant, dan banyak orang lainnya yang tidak memiliki kekuatan mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan

Kota di desain sebagai tempat keadilan dinyatakan. Diluar kehidupan kota, manusia bertindak semaunya,  konflik diselesaikan dengan kekuatan.  tetapi di dalam kota manusia hidup dibawah perlindungan hukum dimana keadilan dinyatakan

Kota di desain menjadi tempat budaya mengalami perkembangan. kota menjadi tempat bertumbuhnya berbagai jenis nilai sosial, politik, budaya dan didalam kota keragaman ini dapat berinteraksi. Dari hasil interaksi nilai-nilai ini satu produk budaya dan gerakan terbentuk dan mengalir mempengaruhi wilayah disekitar kota

Kota di desain menjadi tempat mencari dan menemukan iman. Bangunan-bangunan pencakar langit, menara-menara tertinggi di dalam kota, Istana Kerajaan/Negara, gereja, mengindikasikan iman sebuah kota, menunjukkan apa yang sedang dicari oleh banyak orang.

Tetapi dosa telah merusak kota sehingga tidak ada tujuan asali yang dapat terwujud. Kini kota dicela sebagai tempat kekerasan, ketidakadilan, kesombongan dan ketidakpercayaan

Kehidupan didalam dosa membuat wajah kota berubah menjadi kota rasis, kota yang memilah-milah orang berdasarkan status, kota dengan kekerasan, dan juga berubah menjadi tempat untuk melarikan diri dari TUHAN dan hukum-Nya. Sementara kota masih menghasilkan budaya, kekuatan budaya yang berada di dalam dosa membuat kota berubah  menjadi tempat manusia memuliakan dirinya dan bukan Tuhan. Kota berubah   menjadi tempat manusia  menunjukkan kebanggaan, kesombongan, kelebihan mereka, dan kota yang berada dibawah dosa  berubah  menjadi kota berhala dan keyakinan palsu

Jika kita ingin mengusahakan kesejahteraan Kota, apa yang kita lakukan adalah berpikir dan bertindak mengembalikan apa yang menjadi tujuan asali sebuah kota.

Pertama, kita melayani dan mengasihi mereka yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan. Kita hadir  melayani kebutuhan orang lain, tidak peduli apa ras dan kasta mereka, dan bukan memanfaatkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita.

Kedua, kita hadir menegakkan keadilan. Kita hadir membawa kasih , kedamaian, dan keadilan dari Tuhan ditengah kota yang telah rusak.

Ketiga, kita menciptakan dan mengembangkan  budaya, lewat keterlibatan ditengah-tengah kehidupan kota lewat kreatifitas, keahlian dan relasi kita, kita membentuk dan membangun satu budaya baru yang merupakan perwujudan iman kita, yang nantinya akan mengalir dalam kehidupan kota.

Keempat, kita perlu menjadi orang yang mendorong orang lain untuk menemukan identitas iman mereka, dan meyakinkan bahwa Yesuslah yang mereka cari.

TUHAN peduli terhadap kehidupan umat manusia, tentang penderitaan dan luka mereka, sakit hati dan pencobaan yang mereka hadapi, tekanan yang mereka hadapi, ketidakadilan yang mereka saksikan. Tuhan adalah Tuhan yang berbelaskasihan. TUHAN menginginkan kita menikmati  DIA dengan mengalami kasih, sukacita, dan kedamaian. Logika sederhananya adalah: TUHAN mengasihi manusia, sehingga ia peduli dengan kota dimana kita tinggal. sebagaimana DIA katakan kepada Yunus, “bagaimana mungkin aku tidak sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang”. Jika TUHAN mengasihi Kota dan semua orang yang tinggal di dalamnya demikian jugalah panggilan kita.

Apakah kita hidup bagi kota? atau hanya memanfaatkan kota untuk kesenangan dan perkembangan karir kita ?apakah kita berdoa bagi kota dimana kita tinggal ? apakah kita memiliki sikap hidup yang sama seperti yang TUHAN inginkan pada orang-orang  buangan di kota Babel?

catatan: CITY/KOTA bukanlah sebuah terminology untuk menggambarkan wilayah yang modern dengan segala fasilitasnya. CITY/KOTA adalah wilayah dimanapun manusia menjadi satu komunitas dan didalamnya terjadi interaksi.

diterjemahkan dan disarikan dari buku GOSPEL in LIFE

tulisan ini adalah bagian pertama dari delapan tulisan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2012 in Cuplikan Buku

 

Grace Displacing Your Idols

Gambar

Hal apa dalam hidupmu, kalau kamu kehilangan hal tersebut dapat membuat kamu kehilangan hidup? Hal apa dalam hidupmu, kalau kamu kehilangan hal tersebut, akan membuat segala sesuatunya menjadi tidak berarti dalam hidup? Apapun hal tersebut, Alkitab menyebutnya sebagai berhala. Berhala adalah segala sesuatu yang jauh lebih penting selain Allah bagi kebahagiaan hidupmu, makna hidupmu, atau identitas hidupmu. Penyembahan berhala adalah suatu bentuk keinginan yang kuat terhadap segala sesuatu bahkan terhadap hal yang baik seperti: keluarga, karir, prestasi, fisik yang menarik, romantisme, penerimaan manusia, keamanan keuangan atau apapun. 

Rebecca Minley Pippert berpendapat “Apapun yang mengendalikan hidup kita, disebut tuan kita. Orang yang mencari kekuasaan dikendalikan oleh kekuasaan. Orang yang mencari penerimaan, dikendalikan oleh orang-orang yang ingin dia senangkan. Kita tidak bisa mengendalikan hidup kita sendiri. Kita dikendalikan oleh tuan atas hidup kita[1]”.

Alfred Alder, seorang psikolog mengatakan, “sangat sulit menemukan untuk apa sesungguhnya anda hidup hanya dengan menanyakan pertanyaan tersebut, karena kemudian anda akan menjawab, “saya hidup buat keluarga saya, atau saya hidup bagi Tuhan, atau saya hidup bagi orang lain”. Adler berkata, “jika anda ingin tahu untuk apa anda hidup, perhatikan mimpi buruk anda”. Hal apa dalam hidup jika hal tersebut tidak ada maka akan menghilangkan keinginan anda untuk hidup? Itulah berhala anda.

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya memiliki kuasa dan pengaruh atas orang lain

Power idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya dikasihi dan dihormati oleh…

Approval idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya hidup dalam kondisi nyaman, aman dan hidup dalam kualitas tertentu

Comfort idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika.. saya bisa mengendalikan hidup saya sendiri dalam hal….

Control idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. ada seseorang yang melindungi saya dan menjaga saya tetap aman

Dependent idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya benar benar bebas dari kewajiban atau tanggungjawab untuk memperhatikan seseorang

Independence idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. orang lain bergantung kepada saya dan membutuhkan saya

Helping idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. jika mengerjakan sesuatu secara maksimal dan menghasilkan banyak hal

Work idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya dikenal karena prestasi  saya dan terbaik dalam pekerjaan saya

Achievement idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya hidup dengan kekayaan, keuangan yang baik, dan pekerjaan yang menyenangkan

Materialism idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya taat kepada hukum agama dan bisa melakukan setiap hal yang diperintahkan

Religion idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika….saya benar-benar bebas untuk mengatur kehidupan agama saya, dan bebas menentukan standard moral bagi hidup saya

Irreligion idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. komunitas sosial tertentu, atau komunitas professional menerima saya dalam komunitas mereka

Innerring idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. jika keluarga saya bahagia dan mereka bahagia dengan saya

Family idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. si “gadis/pria” itu mencintai saya

Relationship idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. saya memiliki paras dan fisik yang ideal

Image idolatry

Hidup hanya bermakna/saya merasa hidup saya bernilai jika…. orang ini ada dalam kehidupan saya dan bahagia bersamanya,dan/atau bahagia bersama saya

Individual person idolatry

Polemik penyembahan berhala telah menjadi bagian dalam sejarah manusia, mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan memuja dan menyembah makhluk ciptaan dan melupakan Penciptanya (Rom.1:23-25). Pada masa kehidupan Israel, Yeremia menuliskan suara dan bahasa orang Israel “Percuma saja! Percuma! Sebab aku cinta kepada orang-orang asing, jadi aku mau mengikuti mereka”. Sekali kita melihat sesuatu yang dapat memberikan kita kebahagiaan dan kita tidak dapat mewujudkannya sendiri, kita akan menjadikannya berhala. Berhala tersebut akan mengikat kita, seperti yang dituliskan oleh pemazmur “Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka, yang menjadi perangkap bagi mereka. (Maz.106:36).

Menggusur Berhala Anda (Displacing Your Idols)

Pendekatan “Moral”

Analisis dasarnya: masalahnya adalah kita berperilaku salah. Bertobatlah! Pendekatan ini berfokus pada perilaku, tetapi tidak menyentuh hal yang paling dalam. Kita harus menemukan mengapa perilaku kita demikian. Mengapa kita ingin melakukan sesuatu yang salah? Keinginan terdalam apa yang mendorong kita bertindak salah? Apa yang menjadi berhala dan kepercayaan yang salah dibalik semua itu?

Dengan menyampaikan kepada orang lain atau diri sendiri untuk bertobat dan mengubah perilaku, tidak pernah cukup, karena anda masih memegang satu kepercayan yang mengatakan, “bahkan jika anda hidup pada standar moral tertentu tetapi tidak memiliki hal yang anda anggap berharga, anda akan tidak akan merasa puas”.

Pendekatan “Psikologis”

Analisis dasarnya: masalahnya adalah kita tidak melihat bahwa Tuhan mengasihi kita sebagaimana kita  adanya. Bersukacitalah! Pendekatan ini berfokus pada perasaan, yang kelihatannya lebih dalam dari perilaku, tetapi tetap saja pendekatan ini gagal menyentuh hal yang paling dalam. Kita juga harus menemukan sebab dari perasaan kita. Mengapa kita merasa sangat putus asa (sangat takut, atau marah) ketika hal ini atau itu terjadi? Apa keinginan terdalam yang membuat kita frustasi? Atau kepercayaan atau berhala apa dibalik semua itu?

Dengan menyampaikan kepada orang lain atau dirimu sendiri bahwa “Tuhan mengasihimu, jadi bersukacitalah” bukanlah hal yang tepat karena anda masih memegang sebuah kepercayaan yang mengatakan, “bahkan jika Tuhan mengasihimu tetapi kamu belum memiliki hal ini, yang kamu anggap berharga, kamu masih tidak merasa puas”.

Pendekatan Injil

Analisis dasarnya: masalahnya adalah kita memandang kepada sesuatu yang lain sebagai sumber kebahagiaan selain Kristus. Kita sedang menyembah satu berhala dan menolak Allah. Bertobat dan bersukacitalah dalamNya! Pendekatan ini meng-konfrontasi kita terhadap dosa sesungguhnya dari dosa yang tampak dipermukaan dan di balik perasaan buruk kita. Masalah kita adalah kita telah memberikan diri kita dikendalikan oleh satu berhala.

Paulus mengatakan kepada kita, perbudakan dosa dihancurkan ketika kita keluar dari kehidupan yang dikendalikan taurat – ketika kita percaya kepada Kabar Baik, keselamatan yang merupakan Karya Kristus. Hanya ketika kita menyadari bahwa kita sudah dibenarkan dalam Kristuslah kuasa berhala-berhala itu dihancurkan “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. (Rom 6:14)


[1] Rebbeca Minley Pippert, Out of the the shaltshaker and into the world

 

 

disarikan dan diterjemahkan dari buku Gospel  in Life, Tim Keller

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 16, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.